Framedia - Setelah beberapa jam dalam perjalanan dari Kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ke Kota Cimahi menuju Jalan Leuwigajah terdapat tempat pembuangan sampah, Motor yang saya kendarai berhenti di jalan aspal yang kecil di sebuah desa yang bernama Cireundeu, di dalamnya terdapat kampung yang masih memegang teguh adat tradisonal dari sekian banyak daerah di Indonesia mungkin hanya masyarakat adat Kampung Cireundeu yang menggantikan singkong sebagai makanan pokoknya.
Presiden Jokowi mengingatkan kepada rakyatnya bahwa tingginya harga pangan bisa menimbulkan kemiskinan, karena 73 persen komponen penentu status penduduk miskin terdiri dari bahan pangan. Kurang lebih 81 persen penduduk Indonesia mengkonsumsi beras, tetapi warga Kampung Cireundeu adalah pengecualian. Sejak 1918, warga Adat Cireundeu tak pernah membutuhkan beras lantaran telah menggantikannya dengan singkong, mereka bukan karena tidak mampu tapi mereka masih mempertahankan tradisi adat turun-temurun.
Konon katanya buyut mereka mendapat wangsit dalam mimpinya. “Semua
makanan yang dimakan manusia seperti padi, jagung dan sayur mayur mendatangi
buyut masyarakat Cireundeu, dalam mimpinya itu beliau disuruh mengganti makanan
pokok mereka, pertimbangannya adalah pada masa depan manusia akan mengalami
pertumbuhan jumlah yang besar, tanah persawahan semakin menyempit dan hampir
semua manusia memakan nasi sehingga akan terjadi kesulitan pangan. Dalam mimpi
tersebut dia disarankan untuk menggantinya dengan makanan singkong. Mengapa
singkong menjadi pilihannya ? Itu karna singkong bisa ditanam dimusim apa saja
dan panennyapun sangat cepat tidak seperti padi.” Setelah mendapat wangsit
tersebut buyut mereka memerintahkan kepada masyarakat untuk mengganti makanan
mereka dengan singkong. Sejak saat itu hingga sekarang mereka menjadi kampung
yang berdaulat atas pangannya. Banyak Penghargaan yang diterima oleh mereka
karna ketahanan pangannya.
Sesepuh adat dan warga Kampung Cireundeu hingga kini menjadikan singkong sebagai makanan pokok. Jangan heran jika perkampungan yang terletak sekitar 11 km dari pusat Kota Bandung itu tak pernah berurusan dengan beras pun tak pernah takut kekurangan pangan alias kelaparan akibat tingginya harga beras.
Nenek moyang warga Cireundeu sambung Kang Jajat, membagi hutan
seluas 60 hektare di lingkungan mereka dalam tiga kategori, yaitu hutan
Larangan yang dijadikan daerah untuk resapan air, hutan Baladahan
yang dijadikan tempat bercocok tanam, dan hutan Tutupan yang diyakini
sebagai hutan cadangan air dan cadangan untuk bercocok tanam.
Hutan Baladahan seluas 20 hektare, jelas Kang Jajat, dimanfaatkan
warga Cireundeu untuk bercocok tanam dan mempertahankan hidup dalam jangka
waktu yang panjang tanpa bergantung pada bantuan dari pemerintah. Dari 20
hektare lahan untuk kebun singkong tersebut sebagian milik pribadi dan sebagian
milik desa.
"Seluruh kebun
milik desa digunakan untuk kepentingan bersama. Inilah yang membuat kami tidak
pernah kekurangan bahan makanan pokok. Kalaupun ada hasil panen yang dijual
maka uang hasil penjualan singkong itu sepenuhnya digunakan untuk kegiatan
bersama, seperti peringatan 1 Sura, dan menambah kas kampung," paparnya.
Berkat konsistensi itu, warga Cireundeu dikenal sebagai kampung yang berhasil menjaga ketahanan pangan. Mereka tak pernah kekurangan Singkong, mereka tak seperti petani-petani padi yang kerap mengalami gagal panen, hingga akhirnya mesti membeli beras.***-
---
Penulis : Fahmi Ramdan
.
Sumber : Wawancara